Daerah Istimewa Yogyakarta; Delusi

Sedikit buah pikiran setelah hampir tiga tahun di Yogyakarta, tiga tahun menjalani kehidupan sebagai pelajar di Kota Pelajar, tiga tahun menjalani keseharian menempuh minimal 44 km per hari, tiga tahun berpapasan dengan dirinya.

Enjoy! x

yogyakarta

photo credit: indonesiad.com | source : x


 

Beberapa waktu lalu, aku menyadari kalau waktu itu tidak memilih siapapun. Ia bagaikan ibu yang menerima semua anaknya, tanpa pilih kasih. Disaat ia telah tiba menemui seseorang, maka ada saja yang terpisahkan, namun terkadang ia juga mempertemukan.

Tapi, di Yogyakarta ia bukan ibumu.

Ia juga bukan ibuku.

Beberapa waktu lalu, aku diberi tahu bahwa waktu itu seperti ayah yang mendorong anaknya. Sedihnya karena dulu waktu hanya ingin melihat apa yang ia tidak bisa lakukan dulu, dilanjuti oleh ruang yang ia besarkan dari kecil.

Diluar Yogyakarta, aku kehilangan ayahku.

dan kamu merindukan pelukan seorang ayah di malam hari.

Perempatan Gejayan bukanlah sebuah tempat yang penting di Yogyakarta. Perempatan itu bukanlah tempat berdirinya Tugu Yogyakarta, atau jalanan Malioboro dimana sekarang sudah berubah dari dulu. Tetapi, menyusuri perempatan itu hampir setiap harinya membuatku mulai lelah. Pada satu sisi, aku bersyukur ia tetap sebagaimana ia semestinya. Jalanan aspal yang dibagi menjadi empat untuk lalu lintas. Bagiku, Perempatan Gejayan lebih dari itu. Perempatan itu adalah awal dari sebuah rutinitas, atau awal dari petualangan yang tak terduga di tempat yang sama. Perempatan itu adalah awal aku memikirkan waktu-waktu kita berpapasan.

Satu restoran di gang V yang ada jalan Simanjuntak menjadi pengingat bagiku kalau ada suatu saat dimana aku selalu menghiraukanmu, dan kau menghiraukan seseorang yang lain. Berkali-kali aku kesana dan tidak pernah sekalipun aku duduk selain di kursi ke enam belas dulu. Memesan makanan dan minuman yang sama hampir setiap minggunya. Sungguh, ritual yang bodoh. Tapi, aku merasa lebih dekat, dan aku merasa aku masih bisa menyusuri lorong waktu, seperti yang kita pernah dulu lakukan.

Satu gedung oranye tegak berdiri jauh di jalanan panjang menuju Wates. Mungkin terlalu banyak duka daripada suka di gedung itu. Namun, di mata yang lain, aku belajar untuk menghargai kebahagiaan yang ada di gedung itu, walau hanya sedikit.

Setiap orang butuh sesuatu yang membuatnya tersenyum tiap hari.

Dan aku melihat sebagian kecil Yogyakarta tiap harinya,

dan aku melihatmu,

dan aku menunduk, bersyukur.

//

dan aku tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s